catatan tentang ‘batu’ 22/09/2009
Posted by risalah salik in Tafakur Hati, Tafsir Sufi.trackback
Beberapa butir batu mulia itu akhirnya berhasil kudapatkan. Setelah melalui perjuangan yg cukup panjang, menyisakan bekas-bekas sayatan luka di sekujur tubuh. Ada yg dihibahkan langsung dari pemiliknya, ada pula beberapa yg diberikan begitu saja oleh mereka yg berbaik hati, untuk berbagi.
Tetapi kebanyakan batu itu tidak begitu saja kudapatkan. Kadang-kadang aku menjumpai begitu banyak batu-batu imitasi yg sangat mirip dengan aslinya. Bahkan setelah kuperhatikan dengan cermat, ternyata cuma batu hitam yg mulanya nampak berkilau tetapi lama kelamaan menghilang kemilaunya terkikis arus waktu.
Dan batu itu ternyata membutuhkan wadah untuk menyimpannya. Bukan sekedar wadah yg akan menjaganya dari kotoran, dan agar tersembunyi dari tangan orang-orang yg tidak berhak, tetapi demi menghormati kemuliaan batu tersebut. Bagaimana jadinya bila batu itu jatuh ke tangan anak-anak ? Tentu mereka akan menganggapnya sebagai sebuah mainan belaka dan akan mencampakkannya bila sudah merasa bosan.
Wadah seperti apakah yg pantas untuk menyimpannya? Hingga dari wadahnya saja akan nampak kemuliaan isinya dan berbeda dengan kebanyakan wadah-wadah sejenis yg mirip. Samakah dengan mereka yg telah menyusun wadah–wadah tetapi tidak ada isinya?
Menjadi seorang kolektor batu mulia, atau pengumpul wadah batu mulia, dimanakah perbedaannya? Banyak diantara kita yg terjebak hanya sekedar mengagumi keindahan bebatuan itu, tanpa sedikipun berusaha mendapatkannya. Berharap bisa menemukan di tepian jalan, dan memungutnya. Tetapi juga tidak sedikit yg mempunyai beberapa diantaranya, tanpa hendak membungkusnya dengan sebuah wadah. Pantaskah kemuliaan batu itu dipamerkan sepanjang jalan? Bagaimana bila bertemu dengan sekawanan penyamun jalanan, dan merampasnya?
**akhir~sya’ban 2009

Batu adalah makhluk ciptaan Allah -ta’ala- …
74. Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.
Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya
dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya
dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Al-Quran, Al-Baqoroh, terjemahan)
jika memaknai ‘air’ sebagai sebuah perlambang ilmu, dan aliran sungai adalah tentang ilmu yg mengalir… bagaimanakah dengan ‘batu’ itu? sehingga digambarkan mengeluarkan aliran air daripadanya. bukankah ini adalah sebuah perlambang dari hati yg menjadi sumber ilmu pengetahuan?
salam.
permisi…..salam persaudaraan…..saya suka dengan catatan anda….menurut saya itu sma halnya dengan membedakan antara hakikat dengan syariat…..batu mulia sebagai hakikat dan wadah batu mulia sebagai syariatnya…..semoga tuhan menjaga anda selalu!!!amin…
salam kenal jg mas ekonunog…
terima kasih atas kunjungannya, semoga kita sama2 mendapat perlindungan dari Gusti Allah SWT. Amin.
ternyata anda telah bisa memahami catatan sy…
dan semoga anda telah mendapatkan ‘batu2 nan mulia’ itu
sungguh risalah yg amat indah…