06
Mar
09

Maulid Nabi 2009, sebuah perspektif wacana

Melihat fenomena bangsa Indonesia dewasa ini, menjelang pemilihan pimpinan nasional dan legislatif, mengingatkan saya kepada terjadinya peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan Abrahah dengan pasukan gajahnya. Dapatkah kedua peristiwa berkaitan? Tentu saja! Tergantung dari mana sudut pandang kita dalam melihatnya.

Baiklah, peristiwa penyerangan Baitullah tersebut tepat pada saat kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW , disebut juga tahun gajah -red-, saya akan mencoba melihat dengan kacamata pandang saya yang naïf ini. Tahun 2009 ini umat Islam merayakan kelahiran Nabi terbesar sepanjang sejarah umat manusia, pada tanggal 12 Rabiul Awal, dimana pada tahun ini jatuh pada hari senin, tanggal 10 Maret 2008. Di tahun inilah kesamaan hari peringatan dengan hari kelahiran Beliau, yakni hari Senin.

Kesamaan berikutnya adalah saat terjadinya adalah pada “tahun gajah” yakni penyerangan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Bagaimana bisa tahun ini disebut tahun gajah? Gajah adalah binatang besar dengan ciri-ciri berbelalai/berhidung panjang. Tahukah anda perlambang hidung ini? Hidung sebagai anggota tubuh yang dipergunakan untuk bernafas, merupakan perlambang “niat suci”. Bila binatang dengan ciri khasnya ada di belalai, maka melambangkan sebuah perbuatan yang mencederai niat-niat suci untuk menghancurkan tempat suci, yakni Baitullah. Sudahkah anda mengetahui bahwa “qolbu mu’min baitullah”? bahwa di dalam hati orang-orang yang mukmin, disitulah terdapat Baitullah. Penyerangan pasukan gajah atas Ka’bah, saya tafsirkan sebagai sebuah upaya untuk menukar sebuah kesucian tempat yang suci dan menghancurkannya untuk digantikan dengan berhala dunia.

Bagaimana dengan kondisi bangsa Indonesia dewasa ini? Bukankah sebentar lagi akan diselenggarakan sebuah pesta demokrasi? Di negeri ini aroma persaingan untuk memperebutkan kekuasaan sangat kentara. Mereka yang berambisi untuk merebut kekuasaan sedang berupaya merebut simpati massa pemilih dengan berbagai cara. Di sepanjang jalan kita lihat bertebaran bendera, poster, jargon2 politik, sampai di majelis2 pengajian juga disisipi kampanye. Tujuan mereka adalah “kekuasaan”…!

Ambisi perebutan kursi kekuasaan inilah yang saya lihat dari perspektif wacana ini adalah upaya penghancuran maqam kesucian di hati seorang insan manusia. Niat-niat suci yang seharusnya bersemayam dari dalam hati nurani manusia, sedang terdegradasi dan mengalami proses pembusukan akut untuk sekedar mengenyam hasrat berkuasa. Memprihatinkan, tetapi inilah sebuah lakon hidup bernegara.

Sementara sebenarnya konsep negara sendiri tidaklah di kenal didalam agama Islam. Islam mengenal system kepemimpinan dalam tatanan kekhalifahan, semenjak wafatnya Nabi Muhammad. Figure pemimpin dalam Islam adalah Khalifah. System demokrasi seperti sekarang yang dikenal dan diagung-agungkan, sebenarnya adalah fenomena kehidupan akhir jaman. “Suara rakyat adalah suara Tuhan”. Benarkah? Rakyat yang seperti apa itu, sehingga mampu mewakili suara Tuhan? Apakah rakyat yang kacau oleh bobroknya mental pemimpin bisa dianggap mencerminkan suara kebenaran universal?

Lihatlah proses beralihnya kepemimpinan nasional di negeri ini. Apakah ada yang berjalan seperti yang dicontohkan oleh Nabi? Negeri yang terbesar populasi umat Islam di dunia ini, kenapa tidak bisa menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar mencerminkan jiwa Muhammad? Bukankah kita melihat bahwa di tampuk kekuasaanlah penyelewengan2 dilakukan? Mereka bergelimang harta, tahta dan wanita. Lihatlah kelakuan para wakil rakyat di dewan terhormat sekarang ini. Korupsi! Nepotisme! Bukankah ini adalah pertanda bahwa kesucian tempat2 sakral di Negara ini telah diserbu oleh kawanan “gajah”?

Saat-saat kelahiran Nabi waktu itu membawa angin perubahan bagi kehidupan. Bahkan digambarkan tanah yang gersang mampu menumbuhkan tunas pepohonan yang meranggas. Berhala-berhala sesembahan-pun berjatuhan demi menyambut peristiwa maha dahsyat itu. Api sesembahan kaum majusi bahkan padam. Apakah ini dapat kita ambil hikmahnya untuk negeri ini?

Marilah kita mengambil momentum Maulid Nabi tahun 2009 ini untuk mentafakuri kejadian demi kejadian seperti yang telah digambarkan oleh sejarah. Mampukah kita umat Islam khususnya, melahirkan jiwa-jiwa Muhammad di akhir jaman ini? Ditengah-tengah kejahiliyahan perilaku kebanyakan manusia yang tersesat dalam arus kepahaman yang salah. Bisakah kita mengubah tanah-tanah bathin gersang nan tandus, sehingga pepohonan ke-tauhid-an menumbuhkan tunas2 kehidupan disetiap pokok, cabang dan rantingnya? Dapatkah kita menjatuhkan berhala-berhala sesembahan dunia di dalam alam bathin ini demi mendengar sebuah kelahiran jiwa-jiwa Muhammad? Akankah api nafsu angkara murka dan kedengkian serta kebencian di hati menjadi padam dengan lahirnya para penerus akhlak mulia junjungan kita,Kanjeng Nabi Muhammad SAW?

Wallahu Ta’ala A’lam


2 Tanggapan ke “Maulid Nabi 2009, sebuah perspektif wacana”


  1. 24/03/2009 pukul 04:33

    Lalu siapakah yang ditakdirkan utk menjadi burung ababil di Indonesia yo?

    salam kenal
    Bloger MGL

  2. 24/05/2009 pukul 15:11

    burung ababil-nya?? wah,, brarti yg menghancurkan “pasukan gajah” itu y?

    bila pasukan gajah sebagai perlambang niat suci di maqam fitrah manusia, yg terkena virus-dajjal… tentu saja peranan ababil menjadi tugas manusia2 suci sbg penyeimbang kehidupan ini… ^^


Tinggalkan Balasan