“celebrating 100 years of national awakening”
“bangsa” seperti apa sih yang diperingati “kebangkitan”-nya? lantas “kebangkitan” seperti apa yg sebenarnya yang bisa di pahamkan kita? bukannya bertujuan untuk sekedar menambahi dg partai membolak-balik kata. ada hikmah tersembunyi di sebalik lontaran kata ini…
“bangsa”, gak usahlah kita jelaskan arti secara gramatikal-leksikal silakan cari sendiri di kamus de! sy akan coba mengupas dari sisi ini dan itu bahwa secara alam diri, pengertian “bangsa” secara arti meluas justru akan kembali ke “diri”… koq bisa ya?
“wahadzal balaadil amin” dan demi kota/negeri yg aman (QS. At Tiin 3)
balaad-negeri-kota-bangsa... emang-nya seperti apa seeh, “aman” yang dimaksud? apakah sekedar sebuah kota ato negeri yg ada di muka bumi ini? kek-nya gak tuh… bahkan kota2 besar di negara arab, yg notabene asal islam, malahan jadi sasaran kekejian konspirasi zionis-amrikis.
“man arafa nafsahu laqad arafa rabbahu“, kaum sufi sering mengutip hadits ini didalam berbagai wacana. kenapa ya? dengan mengenal diri sebenar2 kenal, akan bisa mengenal Tuhan? emangnya dimanakah Tuhan berada… trus apakah Tuhan harus kita cari? kalopun iya, dengan apa kita mencarinya? seperti apa seeh “pencarian” itu? apa aja yg ada di dalam “pencarian” itu? dst-dsb-etc
ntar sy bahas dg tulisan tersendiri ajah!![]()
sebenarnya lah dalam diri kita ini terdapat alam semesta besar! ada pusat peredaran semesta diri, ada langit, bumi, dsb. kenapa semesta besar? justru itu yang yg menyebabkan kaca mata pandang diri menjadi terhalang. dengan melihat dari sudut pandang diri, maka segala sesuatunya hanyalah akan kembali ke DIA! Tuhan semesta alam. ya… dengan pengenalan diri yg sesungguhnyalah, kita bisa melihat dan memandang segala sesuatu secara proporsional.
semesta diri itulah alam jiwa bathin kita… luar biasa luas tak berbataskan dimensi ruang dan waktu. beredarnya mengelilingi ka’bah hati, bagaikan lautan manusia yg tak henti2nya berthawaf mengelilingi Rumah NYA. bertasbih-bertahlil-bertahmid mensyukuri nikmat karunia NYA. tak henti2 mengarahkan kiblat hati dan fikiran hanya kepada NYA.
itulah “bangsa”. lantas kebangkitan yang dilambangkan di alam dunia (indonesia) dengan peringatan “celebrating 100 years of national awakening”…? yup, yakni jiwa bathin yg bangkit alias bangun dari keterlelapan tidur panjang, yang menimbulkan ke-jumud-an pola pemikiran, yg cenderung terjebak kepada tipuan dunia yg semakin tua ini. bukankah Nabi Muhammad SAW, bersabda bahwa “sesungguhnya manusia itu tidur, pada saat mati ia akan bangun”.
kenapa justru setelah bangun, manusia malahan dibilang sudah mati? tanya kenapa…
…….to be continued!
