Juni 1, 2009 oleh risalah salik
pagi sewaktu mentari beranjak naik…
dan hari mulai diterangi hangatnya sang surya, beranjak aku berjalan menyusuri sisi barat kota ini…

saat burung pipit terbangun dan mencari penghidupan di pematang sawah, menanti lengahnya petani yg menjaga bulir padi di sawah…

sementara sebagian petani mulai sibuk mempersiapkan lahan sawahnya, menyiapkan bibit padi…

dan pedagang ayam telah mulai berkeliling membeli ayam di sepanjang perjalanan ke pasar pagi…

dari timur gunung merbabu dan merapi, lembah bukit tidar berselimut kabut pagi…

Ditulis dalam Diari, Fotografi | yang berkaitan Diari, Fotografi, jalan-jalan | 1 Komentar »
Juni 1, 2009 oleh risalah salik
Kebenaran yang kau dakwakan
Seharusnya dan selayaknyalah
Dibuktikan dengan sebuah penyaksian
Melalui pandang mata-bathinmu
Bahwa arogansi madzab
Yang telah kau ikuti dari moyangmu
Telah menjadikanmu jumud
Beku dan membatu
Tidaklah kupeduli
Engkau berasal dari mana
Yang terpenting adalah
Hendak kemana dirimu menuju
Ataukah dirimu masih terhijab
Oleh pengetahuan dan pemahamanmu
Bahwa nasab bergaris seperti yang kau kira
Bahwa keniscayaan nasib selalu berpihak kepadamu
Tetapi engkau tidaklah sendirian
Sangat banyak temanmu diluar sana
Yang tenggelam dalam lembah kelalaian
Dan memintal jejaring angan
sebuah istilah “the truth is out there” kebenaran ada diluar sana… mungkin ada benarnya. tetapi kebenaran yg seperti apakah? bila kebenaran haqq yg datangnya dari Gusti Allah telah menyingsingkan diri di ufuk kesadaran jiwa?
Ditulis dalam Sufism, Tafsir Sufi, puisi | yang berkaitan aku, gusti, hijab, kesadaran jiwa, nasab, perjalanan, puisi | Leave a Comment »
Juni 1, 2009 oleh risalah salik
Aku berhenti bertanya
Pada bebatuan di sekitarku
Karena batu tidak bisa menjawab
Karena batu tuli, bisu dan buta
Lantas kuberanjak melangkah
Mencari jawaban yang kucari
Adakah selain bebatuan
Tersisa mutiara diantaranya
Ternyata butir mutiara itu
Tidaklah berada di hamparan tanah
Kilau mutiara itu berada di sebuah samudera
Dengan kedalaman tak terkira
Kuberanikan diri mencebur
Disela bebatuan karang
Menantang gelombang
Memeluk badai
sepenggal puisi ini menceritakan sebuah perjalanan ruhani seorang salik yg menimbulkan banyak pertanyaan tentu saja membutuhkan referensi2 jawaban untuk menjelaskannya… pada saat ia menemukan sesuatu masalah pelik, bertanyalah ia kepada para ahli dibidangnya. bila seorang salik hendak bertanya, tentulah kepada para ahli dlm bidang agama bukan? tetapi setiap menemukan sumber referensi untuk menemukan jawaban, seolah bagaikan batu… mereka tidak bisa menjawabnya dengan jelas, seperti yg diharapkannya.
setelah sekian lama berjalan mencari nilai2 sebuah kebenaran, sampailah salik itu kepada kesimpulan, bahwa ibaratnya sebutir mutiara… tempatnya adalah di kedalaman samudera. bukan tergelar di atas tanah, dimana setiap orang dengan mudah akan meraihnya. untuk mendapatkannya, tentu saja salik itu harus mencebur ke dalamnya. samudera yg dalam, dengan ombak2nya yg ganas dan badai di tengah2nya.
bahkan setelah sekian lama dalam usaha pencarian butir demi butir mutiara itu, tidak dirasakan olehnya bahwa ia telah menjadi akrab dengan kehidupan samudera itu sendiri. berkawan akrab dengan tajamnya karang, amukan badai, hingga keindahan dasar laut yang tak terjamah kebanyakan manusia.
Ditulis dalam Spiritual-Experiences, Sufism, Tafsir Sufi, Untaian Hikmah, puisi | Leave a Comment »
Mei 24, 2009 oleh risalah salik
pernahkah anda membayangkan berada di sebuah tempat, dimana disitu adalah pusat dari semua arah menuju??
yup,,, didalam ka’bah, dimana merupakan pusat dari semua arah muslim sedunia berkiblat.
apa yg terjadi bila masuk waktu shalat, sementara anda berada di pusat semesta itu, ya,,, anda berada di dalam baitullah! kemanakah wajah ini hendak menghadap? kemanakah kiblat shalat yg hendak didirikan ini menuju??
padahal sewaktu anda memutuskan untuk menghadap ke barat… bukankah sebelah timur anda adalah kiblat juga?? demikian dg sebelah utara dan selatannya??
waah… semestinyalah bukan dengan kacamata itu anda memandangnya! terlalu naif bila berandai2 semata hanya dengan kepahaman kita yg sangat sempit ini…
astaghfirullah!
bukankah kiblat shalat ke arah ka’bah hanyalah secara jasad,,
sementara,, kemanakah kiblat hati dan fikiran kita menuju?? apakah semata terarah hanya kepadaNYA? ataukah terukir relief2 berhala dunia di dalamnya??
sehingga jangankan khusyu’-nya shalat,, bahkan hakikat menyembahNYA pun tak tercapai.
perbaharuilah shahadat,, sucikan niat,, lakukan taubat,,
insya Allah!
Ditulis dalam Tafakur Hati, Tafsir Sufi | 2 Komentar »
Mei 24, 2009 oleh risalah salik
Candi dieng, sebuah tempat peribadatan yg menjadi situs alias peninggalan sejarah. walaupun masih seringkali dipergunakan oleh pemeluk agamanya, tetapi lebih sering menjadi tempat wisata. sy tidak mengetahui secara persis nama, sejarah candi dalam gambar ini. sorry! saya cuma memotretnya dan menikmati keindahan candi beserta alam sekitarnya yg menawan itu…

telaga warna, dengan air telaga yg saat itu berwarna kehijauan (kata orang2, sekarang sudah jarang berwarna seperti dulu… malahan sering2 berwarna kehijauan seperti ini)

sisi lain landscape telaga warna,

to be continued…
Ditulis dalam Fotografi | Leave a Comment »
April 1, 2009 oleh risalah salik
pernah liat jenazah dikebumikan? seperti apa pelajaran hikmah yg bisa kita peroleh disitu? banyak… seberapa merasuk ke dalam hati kita?
bukankah pelajaran yg paling berharga bagi manusia adalah bertakziah? seberapa berharga-nyakah??
sedikit dari pelajaran itu adalah tali kain kafan, yg mengikat jenazah. ada yg tiga, lima, tujuh ikatan… –CMIIW– ikatan itu berada di atas kepala, di dada/badan, dan di kaki… setelah masuk ke liang lahat, lantas dilepaskan oleh orang yg mengadzaninya, untuk apa sih? katanya, kalo tidak dilepas akan menjadi hantu yg bergentayangan… tetapi mungkinkah ada maksud lain dari perlambang itu?
mari kita tafakuri sama2…
pada saat kepala alias akal fikir kita terikat oleh dunia, apa yg terjadi? bukankah perjalanan menuju kepada Tuhan akan terganggu? demikian pula bila hati –yg letaknya di dalam dada– & kaki –sebagai lambang laku langkah– yg masih terikat oleh keduniawian, bisakah perjalanan menuju Tuhan akan berjalan dengan sempurna?
tentunya pelajaran ini berguna untuk manusia yg masih hidup. bagi sang mayat? sudah terlambat!
manusia mati kan hendak bertemu dengan Tuhannya, entah itu bertemu dengan rahmatNYA ataukah murkaNYA… tergantung dengan amalan si manusia itu selama masih hidup di dunia ini.
pelajaran apakah ini? yakni selama masih kita diberi hidup dan kehidupan di dunia ini,, hendaknya kita mencari Tuhan! kemana Tuhan hendak dicari? bagaimanakah pencarian itu? apa saja yang ada di dalam pencarian itu?
tentunya bila memutuskan untuk mencariNYA, terlebih dahulu harus dilepaskan segala ikatan tali kafan yg membelenggu di akal, hati dan kaki kita!!
apakah mayat mampu melepaskan tali jenazah itu sendirian? tentu tidak bisa. lantas siapakah yg bisa melepaskannya? tentunya orang yg mengadzaninya bukan?
manusia seibarat mayat, dimana ia tidak mempunyai daya kuasa apapun untuk melepaskan simpul2 tali temali itu tanpa kuasa dan kehendakNYA. bagaimanakah caranya kita memperoleh ijin dari Tuhan? apakah lantas cukup dengan berpangku tangan sahaja? ingatlah, bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu manusia, bila manusia itu tidak berusaha untuk merubahnya.
akhirnya, tafakuran singkat ini semoga menambah wawasan kita, bahwa begitu banyak manusia disekeliling kita yg masih terikat oleh tali pocong ini. bahwa akal, hati dan laku langkah mereka masih saja terikat oleh keduniawian. bagaimana bisa mereka menemukan Tuhan di dunia ini dan di akhirat nanti?? tidakkah ini mengetuk kesadaran untuk segera bertaubat?
semoga!
Ditulis dalam Diari | Leave a Comment »
Maret 6, 2009 oleh risalah salik
Melihat fenomena bangsa Indonesia dewasa ini, menjelang pemilihan pimpinan nasional dan legislatif, mengingatkan saya kepada terjadinya peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan Abrahah dengan pasukan gajahnya. Dapatkah kedua peristiwa berkaitan? Tentu saja! Tergantung dari mana sudut pandang kita dalam melihatnya.
Baiklah, peristiwa penyerangan Baitullah tersebut tepat pada saat kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW , disebut juga tahun gajah -red-, saya akan mencoba melihat dengan kacamata pandang saya yang naïf ini. Tahun 2009 ini umat Islam merayakan kelahiran Nabi terbesar sepanjang sejarah umat manusia, pada tanggal 12 Rabiul Awal, dimana pada tahun ini jatuh pada hari senin, tanggal 10 Maret 2008. Di tahun inilah kesamaan hari peringatan dengan hari kelahiran Beliau, yakni hari Senin.
Kesamaan berikutnya adalah saat terjadinya adalah pada “tahun gajah” yakni penyerangan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Bagaimana bisa tahun ini disebut tahun gajah? Gajah adalah binatang besar dengan ciri-ciri berbelalai/berhidung panjang. Tahukah anda perlambang hidung ini? Hidung sebagai anggota tubuh yang dipergunakan untuk bernafas, merupakan perlambang “niat suci”. Bila binatang dengan ciri khasnya ada di belalai, maka melambangkan sebuah perbuatan yang mencederai niat-niat suci untuk menghancurkan tempat suci, yakni Baitullah. Sudahkah anda mengetahui bahwa “qolbu mu’min baitullah”? bahwa di dalam hati orang-orang yang mukmin, disitulah terdapat Baitullah. Penyerangan pasukan gajah atas Ka’bah, saya tafsirkan sebagai sebuah upaya untuk menukar sebuah kesucian tempat yang suci dan menghancurkannya untuk digantikan dengan berhala dunia.
Bagaimana dengan kondisi bangsa Indonesia dewasa ini? Bukankah sebentar lagi akan diselenggarakan sebuah pesta demokrasi? Di negeri ini aroma persaingan untuk memperebutkan kekuasaan sangat kentara. Mereka yang berambisi untuk merebut kekuasaan sedang berupaya merebut simpati massa pemilih dengan berbagai cara. Di sepanjang jalan kita lihat bertebaran bendera, poster, jargon2 politik, sampai di majelis2 pengajian juga disisipi kampanye. Tujuan mereka adalah “kekuasaan”…!
Ambisi perebutan kursi kekuasaan inilah yang saya lihat dari perspektif wacana ini adalah upaya penghancuran maqam kesucian di hati seorang insan manusia. Niat-niat suci yang seharusnya bersemayam dari dalam hati nurani manusia, sedang terdegradasi dan mengalami proses pembusukan akut untuk sekedar mengenyam hasrat berkuasa. Memprihatinkan, tetapi inilah sebuah lakon hidup bernegara.
Sementara sebenarnya konsep negara sendiri tidaklah di kenal didalam agama Islam. Islam mengenal system kepemimpinan dalam tatanan kekhalifahan, semenjak wafatnya Nabi Muhammad. Figure pemimpin dalam Islam adalah Khalifah. System demokrasi seperti sekarang yang dikenal dan diagung-agungkan, sebenarnya adalah fenomena kehidupan akhir jaman. “Suara rakyat adalah suara Tuhan”. Benarkah? Rakyat yang seperti apa itu, sehingga mampu mewakili suara Tuhan? Apakah rakyat yang kacau oleh bobroknya mental pemimpin bisa dianggap mencerminkan suara kebenaran universal?
Lihatlah proses beralihnya kepemimpinan nasional di negeri ini. Apakah ada yang berjalan seperti yang dicontohkan oleh Nabi? Negeri yang terbesar populasi umat Islam di dunia ini, kenapa tidak bisa menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar mencerminkan jiwa Muhammad? Bukankah kita melihat bahwa di tampuk kekuasaanlah penyelewengan2 dilakukan? Mereka bergelimang harta, tahta dan wanita. Lihatlah kelakuan para wakil rakyat di dewan terhormat sekarang ini. Korupsi! Nepotisme! Bukankah ini adalah pertanda bahwa kesucian tempat2 sakral di Negara ini telah diserbu oleh kawanan “gajah”?
Saat-saat kelahiran Nabi waktu itu membawa angin perubahan bagi kehidupan. Bahkan digambarkan tanah yang gersang mampu menumbuhkan tunas pepohonan yang meranggas. Berhala-berhala sesembahan-pun berjatuhan demi menyambut peristiwa maha dahsyat itu. Api sesembahan kaum majusi bahkan padam. Apakah ini dapat kita ambil hikmahnya untuk negeri ini?
Marilah kita mengambil momentum Maulid Nabi tahun 2009 ini untuk mentafakuri kejadian demi kejadian seperti yang telah digambarkan oleh sejarah. Mampukah kita umat Islam khususnya, melahirkan jiwa-jiwa Muhammad di akhir jaman ini? Ditengah-tengah kejahiliyahan perilaku kebanyakan manusia yang tersesat dalam arus kepahaman yang salah. Bisakah kita mengubah tanah-tanah bathin gersang nan tandus, sehingga pepohonan ke-tauhid-an menumbuhkan tunas2 kehidupan disetiap pokok, cabang dan rantingnya? Dapatkah kita menjatuhkan berhala-berhala sesembahan dunia di dalam alam bathin ini demi mendengar sebuah kelahiran jiwa-jiwa Muhammad? Akankah api nafsu angkara murka dan kedengkian serta kebencian di hati menjadi padam dengan lahirnya para penerus akhlak mulia junjungan kita,Kanjeng Nabi Muhammad SAW?
Wallahu Ta’ala A’lam
Ditulis dalam Tafakur Hati, Tafsir Sufi | yang berkaitan gusti, hikmah, ka'bah, maulid nabi, Nabi Muhammad SAW, niat suci | 2 Komentar »
Februari 5, 2009 oleh risalah salik
Alkisah ada seorang “tua” sebut saja namanya Bahlul, datang ke istana Sultan Harun Ar Rasyid. Kebetulan pada saat itu Sultan sedang bepergian melawat keluar istana. Begitu melihat kursi singasana kosong, dia ingin mencoba duduk di atasnya. Karuan saja pengawal mencak-mencak dan menganggap orang ini “gila” alias “kurang waras” karena berani-beraninya duduk di singasana kehormatan sultan, kemudian menangkap serta menghajarnya dengan pukulan bertubi-tubi.
Tentu saja dihujani dengan pukulan para pengawal, Bahlul merasa kesakitan dan akhirnya menangis menahan pedih dan sakitnya dipukul para pengawal. Untung tidak berapa lama Sultan kembali dari lawatannya. Begitu melihat ada seseorang yang dipukuli para pengawalnya, Sultan segera memerintahkan untuk menghentikannya. “Berhenti!” kata Sultan. ” Kenapa kalian pukuli orang ini, tidakkah kalian melihat dia sudah tidak berdaya, dan tidakkah kalian merasa kasihan?”. Lantas para pengawal menghentikan tindakannya seraya melapor, ” Ampun Baginda!, orang ini telah berbuat kurang ajar dengan duduk diatas singasana Baginda. Karena itu kami menghukumnya dengan pukulan agar dia jera dan tidak mengulanginya lagi nanti”.
“Baiklah…!” ujar Sultan bijak. ” Benarkah apa yang dikatakan para pengawalku tadi, wahai orang tua?” kata Sultan kepada Bahlul. Setelah beberapa jenak Bahlul terdiam, tiba-tiba saja begitu mendengar perkataan Sultan, Bahlul kembali menangis… bahkan lebih keras dibandingkan sebelumnya. Karuan saja Sultan dan para pengawalnya terheran-heran. “Hai, mengapakah kamu menangis lagi? bukankah para pengawalku sudah berhenti memukulimu?” kata Sultan.
“Ampun Baginda Sultan!” Bahlul akhirnya berkata, ” kalau tadi hamba menangis karena dipukuli pengawal paduka, itu adalah karena tadi hamba merasakan sakitnya pukulan yang hamba terima akibat mencoba duduk sejenak di atas singasana Baginda…”.
” Tetapi hamba barusan membayangkan, bagaimana sakitnya pukulan yang akan Baginda rasakan kelak! Hamba yang baru sebentar duduk di singasana saja, sakitnya bukan alang kepalang, apalagi Baginda yang sudah puluhan tahun duduk di atasnya…”.
Ditulis dalam Sufism, Untaian Hikmah | yang berkaitan hikmah, tafakur | Leave a Comment »
Februari 2, 2009 oleh risalah salik
Sayapku patah, tercerabut bulu-bulunya, terserak memenuhi permukaan bumi. Pedih terasa menghimpit, meremukkan tulang-tulang ini. Terkulai tak berdaya, memandang angkasa yang masih luas membentang. Pelangi masih di tempatnya semula. Awan gemawan masih berwarna putih keperakan dan berarak pelan seolah menungguku untuk memeluknya. Sekejap pun tak hendak berlalu, meninggalkanku terkapar di bumi ini.
Di sekitarku terbentang hamparan ilalang bersemak merimbun. Bebatuan tergelar di atas tanah gersang. Angin kemarau bertiup, membawa angin utara. Panas melembabkan napas makhluk. Tersengal napasku membisikkan kata kerinduan, kepada sarang di puncak tebing di sana, yang masih jua tak tersentuh kebanyakan makhluk bumi.
Adakah seseorang kan hendak melewati padang ilalang ini, dan menemukanku untuk merawat dan memulihkan kedua sayapku ini? Semakin aku berharap seperti itu, semakin kabur pandangan dan harapku. Beterbangan terbawa semilir angin senja. Dimanakah sang rajawali perkasa, yang selama ini terbang melintasi lelangit belantara dengan gagahnya? Dimanakah teriakan lantangnya yang memenuhi segenap penjuru angkasa, yang memekikkan teriakan kebebasan itu?
Ditengah kesedihan penuh harap ini, aku hanya bisa bisa berjalan tertatih, menelusuri tanah berdebu di tengah hamparan kerikil di padang ilalang ini. Kuseret kedua sayapku, mencoba mencari tempat untuk sekedar berteduh dan menyandarkan tubuhku barang sejenak. Kesendirian yang tak berbataskan ruang dan waktu, serasa terus menemaniku di sisa hari yang panjang ini.
Mungkin perlu untuk lebih dari sekedar merenungkan peristiwa-peristiwa kemarin hari. Sebelum kejadian yang membuatku menjadi seperti pesakitan ini. Perlahan ingatanku dibawa melayang-layang mengikuti alur demi alur kejadian itu.
Adakah seseorang yang terganggu dengan pekikanku di atas sana, yang akhirnya melepaskan batu-batu yang meluncur terarah ke tubuh ini untuk mengusirku? Adakah seseorang yang membuat keruh rimba dengan memberitahukan kepada penghuninya agar tidak menyukai teriakan kebebasanku di angkasa?
Entahlah. Yang kutahu pasti sekarang aku sendirian disini sekarang. Di bawah bayangan sebuah pohon tua di tepian padang ilalang. Sekejapan mataku melihat bahwa pohon ini ternyata buahnya banyak yang berjatuhan di sekitarku. Tak jauh dari tempatku berada, mengalir sebuah sungai kecil yang berair jernih. Cukuplah untuk menghilangkan dahagaku hari-hari kedepan.
Akhirnya dengan gontai aku merebahkan tubuhku. Beristirahat menunggu pulihnya bulu-bulu sayapku bertumbuh kembali. Entah sampai kapan. Hanya Tuhan yang tahu, dan yang menjadi kawanku sekarang ini, seperti dahulu. Perlahan kupejamkan mataku, sambil berharap agar didalam mimpi-mimpiku kedua sayapku tidak lagi terluka, agar aku bisa beterbangan di langitnya dan mengembara melintasinya dengan bebas merdeka…
Ditulis dalam Diari, Sufism, Untaian Hikmah | yang berkaitan Sufism, tafakur | Leave a Comment »
Januari 30, 2009 oleh risalah salik
ada apa dengan angka 40? kenapa sering kali kita menemukannya di siklus biologi, usia janin, rentang amalan dzikir, dlsb? apakah makna dibalik angka ini ya?? pengen tau gak ya…
coba qt buka satu2….
ada empat elemen di alam, yakni angin, bumi, api dan air. demikian pula manusia, keempat elemen ini berada di dalam tubuh.
>>unsur bumi /tanah, melambangkan sisi jasad manusia yg diciptakan dari tanah. nafsu lawammah jg dilambangkan dengan unsur ini >>unsur angin/udara, melambangkan sifat kebinatangan yg ada dalam diri manusia. *sisi hawa nafsu*>> unsur api, melambangkan sifat amarah, *sisi syaitan!*>> unsur air, melambangkan sisi malaikat.
itulah makna angka 4. bagaimana agar keempat elemen itu mampu kita kuasai dan membulat berpasrah diri kepada Allah SWT? disinilah makna angka 0. jadi 40, bermakna bagaimanakah menemukan jalan untuk bisa berpasrah diri, bersujud, secara total kepada Sang Pencipta semesta alam.
begitu sajakah?? tentu tidak… ini sekedar bahasa pembuka, yg coba dikemas dalam balutan kalimat sangat sederhana. sesederhana akal dan logika manusia kebanyakan yg sangat naif didalam menyikapi hidup dan kehidupan ini.
Ditulis dalam Tafakur Hati | yang berkaitan doa, kesadaran jiwa, tafakur, tahlil | Leave a Comment »
Januari 25, 2009 oleh risalah salik
mari kita liat seekor lalat….
bacalah, tentunya dengan terlebih dulu menyebut Asma Tuhan. Bismillahirahmaanirrahiim…,

what next?
bukankah Tuhan tidak segan2 untuk membuat perumpamaan dengan menggunakan binatang2 bahkan seperti nyamuk, lalat, dsb.
mengapa kita segan untuk mentafakurinya ya? bahkan jijik melihat lalat seperti ini hinggap di atas piring makan kita, yg menempel di bibir gelas kopi kita, hingga akhirnya kita gebuk pake sapu lidi, ataupun disemprot pake “b**g*n” pembasmi serangga .
“sumber penyakit mas!”, “ngisin-isin i onok uwong kok dirubung laler! dikiro gembel!” …. hihihih, komentare kira2 gitulah… padahal, aq aja gak jijik kok pas motret pake kamera…. huehuehuehe >>> bener2 gak nyambung!
to be continued…
bener2 udah jam 4 pagi… ntar dilanjut de!
Ditulis dalam Tafakur Hati | yang berkaitan lalat, macro, nyamuk, tafakur | Leave a Comment »
Januari 25, 2009 oleh risalah salik
hampir 7 bulan offline, jd gak inget kalo aq punya blog ini…. hehehe . iseng2 OL trus buka thunderbird, waduuh… sekarung imel siap di delete! =)
Insya Allah, jikalau Tuhan berkehendak… akan kulanjutkan coretan2 di blog ini.
best regards
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Januari 24, 2009 oleh risalah salik
pagi itu, ditengah keramaian jalan menjelang pukul 7 …. perempatan kecil itu disesaki pengguna jalan. anak2 sekolah berlomba dengan waktu untuk menuju sekolahannya. pekerja bergegas menuju tempat kerjanya. sementara aq di tepi jalan menunggu seorang teman.
rekaman kejadian di memori otakku ini masih saja berbekas, saat itu sebuah sedan berada di tengah perempatan muncul dari arah timur, lantas berhenti ditengah2 jalan… hey!! jgn2 orang mabuk ini… batinku berburuk sangka. astaghfirullah!
lama berusaha memutar arah kearah aq berada. kedua polisi yg berjaga disitu, tampak mengatur arus lalu-lintas dan mengarahkan sang mobil sedan mulus itu untuk berjalan. aq masih memperhatikan kejadian itu, yg hanya berjarak sepelemparan batu dari tempat aq duduk.
dalam hitungan detik, mobil itu meraung2 gas-nya, bagaikan berpacu di lintasan balap! wew… gak sempet aq bereaksi bahkan untuk berpikir apa yg akan terjadi…
brakkkk!!! Ya Allah…, setelah membentur trotoar, mobil itu menabrak antrian kendaraan di sebelah kiri, menghantam sebuah sepeda motor dan pengendaranya menjepitnya ke sebuah bis antar kota. pengendara terjepit, bis ringsek, serpihan berserak….
huh… blajar nyetir ya?

bagaimana nasib korban, aq tidak mengetahuinya. setelah membantu mendorong bis agar korban bisa terlepas dari jepitan kendaraan, aq lantas mengeluarkan kamera dan memotret. dari kejauhan tampak beberapa org telah membawanya ke rumah sakit terdekat.
sang pengemudi? no komen…!!! just look at this picture. she just only looking at her broken-car…. shame on u!! =(
Ditulis dalam Jurnalistik | yang berkaitan blajar nyetir | 2 Komentar »
Januari 20, 2009 oleh risalah salik
Pada malam 15 Sya’ban, “buku” catatan amal yang merekam semua amalan manusia, baik yang buruk atau baik diangkat/diambil untuk digantikan dengan yang baru. Dengan melakukan amalan ibadah seperti diatas, kita mengharapkan agar “rekap catatan amal” selama setahun silam dapat terisi dengan amalan baik, dan agar dapat diputihkan segala kekurangan dan dosa kita selama setahun silam. Kita bertaubat pada malam yang mulia tersebut dengan sebenar taubat ( taubat nasuha ). Juga dengan mengisi beribadah pada malam tersebut, kita berharap agar “buku catatan amal” yang baru pada lembar pertamanya terisi dengan hal-hal yang baik agar dapat berkelanjutan pada hari-hari berikutnya.
Inilah kenapa kita disunnahkan untuk memperbanyak membaca Istighfar. Fadlilah Istighfar sangatlah banyak. Selain untuk meminta ampunan Tuhan, kita juga meminta agar dibukakan pintu-pintu rejeki lahir dan rejeki bathin. Selain itu untuk “kalangan khusus”, adalah untuk meminta agar dibukakan hijab yang menyelubungi diri manusia didalam penghambaannya kepada Allah Ta’ala.
Pada malam Nisfu Sya’ban para Malaikat yang bertugas mengambil dan mengganti buku catatan amal setiap manusia, “hilir mudik dari bumi ke langit”. Mereka melakukan kesibukan itu seperti layaknya manusia yang sedang merayakan hari raya lebaran.
Apakah kita menyambut mereka layaknya kita mendapat kunjungan tamu sesama manusia dan kita mampu menghormati dan memuliakan mereka?
Subhanallah! Marilah kita mengajak hati kita, untuk bertafakur merenungkan kebesaran Ilahi.
Ditulis dalam Sufism, Tasbih, Untaian Hikmah | yang berkaitan hikmah | Leave a Comment »
Januari 16, 2009 oleh risalah salik
Selepas shalat subuh berjamaah, akhirnya kami berempat masih melanjutkan perbincangan. Sama sekali tidak ada perasaan ngantuk ataupun lelah, setelah semalam bertafakur bersama. Hanya tersisa keharuan di dalam hati, yang masih kurasakan seperti saat shalat tadi. Entah bagaimana perasaan ketiga saudara-ku itu, tentunya mereka telah larut ke dalam suasana yang dirasakan masing-masing.
“Begitulah, peristiwa pandangan mata bathin anda itu, kalau kita tafakuri sangatlah luar biasa. Bahwa selama shalat hingga berakhirnya lantunan dzikir tadi, secara langsung telah menjadikan sebuah visi atas laku perjalanan yang telah dan akan anda mulai. Begitu melangkahkan kaki, pantang untuk berpaling dan berbalik. Tetapi ingatlah hanya sedikit manusia yang berani menempuh jalan ini. Itu dilambangkan dengan jalan setapak yang kecil dan lurus itu. Sementara justru jalan lebar dan luas itu malahan membelok kekanan. Bukankah di awal-awal shalat tadi yang anda lihat adalah tiga jalan yang bercabang? Dan alhamdulillah jalan lurus itulah yang anda ambil. Begitu sampai pada ujung jalan kecil itu, bukankah yang anda menjumpai pagar tinggi berwarna kuning menghalangi perjalanan anda dan gerbang hijau yang ada satu-satunya? Mau tidak mau itulah “gerbang” yang harus dilewati.
Lihatlah, anda melihat sebuah gubug reyot dengan bernyalakan sebuah cahaya pelita yang kecil. Itulah perlambang bahwa di dalam diri anda telah mulai menyala sebuah pelita cahaya, penerang jalan kegelapan. Selanjutnya rumah besar dengan lampu sangat terang, itulah perlambang mereka yang telah berada di jalan ini dan menemukan kesejatian dalam laku perjalanan ini.
Akhirnya sampailah pemandangan visi anda di sebuah bangunan nan megah. Besarnya seolah melebih sebuah bangunan stadion sepakbola kan? Begitu anda masuk, lihatlah begitu banyak pintu-pintu yang harus anda lewati.
Lihatlah benderang cahayanya! Rasakanlah kesejukan di dalamnya! Itulah perlambang yang nantinya akan anda temui dan saksikan sendiri.
Tiadalah cukup bahasa huruf untuk mengungkapkannya. Bagaimana bisa, kalaupun diceritakan begitu saja, anda akan menganggap remeh dan menyepelekannya. Kalaupun dituliskan, anda akan menjumpai bias penafsiran didalam pemaknaan tiap-tiap kalimat, kata, bahkan setiap hurufnya.
Teguhkan hatimu, kuatkan tekadmu, bulatkan niatmu! Ini adalah sebuah awal perjalanan ruhani. Anda telah berada di jalur yang tepat! Ikutilah suara nurani didalam melangkah. Tinggalkan bahasa akal yang cenderung mengikatmu untuk berlogika dan berandai-andai. Ingatlah bahwa seorang penempuh jalan, akan mengetahui bahwa keinginan berada di antara dirinya dan jalan yang ditempuhnya.”
Dedicated to hengki, kus & santi.
Ditulis dalam Spiritual-Experiences, Sufism, Tafakur Hati, Untaian Hikmah | Leave a Comment »
Januari 2, 2009 oleh risalah salik
aku tertegun dan bersimpuh di sudut ruang ini
kemudian tetap tersimpuh dan tertunduk… diam
tak berkedip tak bergerak… hingga terasa serak
menunggu tanya yg tak pernah kunjung jawab
menyisakan dada yg sesak sesekali terisak
menyertai hampa dalam keputusasaan
hingga kering sudah air mata ini meratapi
mengguratkan kisah pedih sampai akhir nanti
ku pasang nisan di liang peristirahatanku
dan ku tabur bunga kamboja di pusara ku
akhirku pun terkubur sepi…
ijinkan langkahku yg gontai walau terantai,
untuk kembali menapaki kehidupan
biarlah terserak-serak tak tentu arah,
biarlah waktu bergulir tak menyapa
dan biarkan aku jatuh tertatih tatih
dalam kesendirian… keputusasaan…
dan duka yg meradang
meninggalkan keangkuhan dan kebodohan
meski aku harus bersendiri
masuki sisi ruang kehampaan
dan biarkan diriku kembali terjatuh
dalam kabut hening nan sunyi merasuk kalbu
untuk meratap langit yg kian menghitam
berdiri menapak rasa bersalah
hadir kan diri menyapa resah
sedikit gundah temani mimpiku
tentang hidupku yg seolah berlalu
seribu tanya jua seribu sesal menggayut jiwaku
tiada jawaban jua tiada ampunan
dalam kemarau duka, kudahaga kerinduan
Kau butakan aku ‘tuk melihat rahmatMu
dan Kau tulikan aku ‘tuk mendengarMu
Kau lepas jemariku dengan senyum
selagi nurani yg kian tertanam
entah kemana kuharus persinggahkan
kugenggam khilafku kumohon pintu maafMu
Yaa Ghofur… ampuni segala khilaf ini
*) plosokuning, awal 2009
Ditulis dalam Tasbih, Untaian Hikmah, puisi | Leave a Comment »
Juni 1, 2008 oleh risalah salik
ada yg membuncah di lelangit kebangunan jiwaku. ada pedih tersisa dari nafs khafi. menyeruak tampakkan jejak berdarah-darah. kerontang kantung air di mata, terserap luka menganga mencari sejuknya pengobat lara. satu-dua saat terlampaui, seiring hitungan bebijian tasbih bergulir di tangan kehidupan. bukannya cobaan, juga bukan ujian. ini adalah nikmat…
semata nikmat yg dicurahkanNYA, selaksa siraman bak rinai gerimis di tengah musim hujan. membasahi tanah bathin nan gersang meranggas. demi seberkas cahaya yg berpendar menyala tak kunjung padam. di puing-puing reruntuhan keakuan diri…
wahai Dzat yang jiwaku berada di genggamanMU sepenuhnya… wahai Sang Penguasa alam semesta raya… tiadalah daku merasa punya daya kuasa apapun selain semata KuasaMU!
ridhaMU Yaa Robbi… perkenanMU Yaa Dzal Jalaali wal ikrom… Ighfirlanaa Yaa Allah!
Ditulis dalam Tafakur Hati, Tasbih, puisi | yang berkaitan Diari, puisi, tafakur, Tasbih | Leave a Comment »
Mei 28, 2008 oleh risalah salik
emang semuanya bisa kita tafakuri koq, kalopun qt bisa “klik” minjem istilahnya my “soulmate-Q” dg semua perihal yg kita hadapi sehari2 kan no problem kan? sy sebenernya udah lama pengen nulis masalah “adsense” di dunia ngeblog, tapi karena masih membiasakan diri untuk rajin2 posting, yah… keknya kudu ditulis ajah de sekarang. dunia adsense yg udah diakrabi oleh temen2 angkring sebenernya udah lama sy tertarik. cuma krn ribet n gak dpt banyak $$$ dari sini, jadi males ah! biar ladang ini dicangkul sm mereka ajah. sapa tau ntar ditraktir.
ngeblog kalo mo dapet duit, pasang aja adsense, entah yang ini ato itu juga yg ini… banyak bgt koq. asal tau trik2 nyah, en mau belajar, pasti bisa. kalo dapetnya banyak ato dikit gatau. lantas mo ngebahas apaan seh yg kaitannya sama keyword en tags “ngeblog+adsense+duit” yah?
kalo semua itu adalah agar tujuannya qt dapet duit, maka blog yg qt punya akan menjadi “komersil” karena jelas2 menghasilken duit. jadi duit-lah yg jadi komoditas utama. kalopun ditengah2 nya ada sedikit ato banyak pesen2 moral, bagus-lah. tapi jarang yah? kan pake english. ada jg saran dari temen, gak masalah dg apa yg mo ditulis, asal original, rajin2lah posting, jgn maen copas, bla bla bla. titik pointnya adalah ada sedikit-banyak pemahaman yg berbeda. secara filosofisnyah.
kalo sy membuat blog dg tema seperti ini, jelas2 akan lucu tur wagu kalo ditempelin iklan… kan isinya iklan juga! (tapi iklan akhirat! hehehe…) tapi justru dari sinilah sy mentafakuri ke tiga keyword diatas. kenapa bahkan adsense “dunia” kita akan mendapatkan upah, setelah berpayah2 copas menulis blog? sedangkan “kepayahan” -ato bolehlah qt sebut keasikan tersendiri- untuk menulis blog dengan tema seperti ini, upah seperti apa ya yg kelak akan kita dapet?
yah, walopun gak dapet $$$ sekarang, ntar di alam sana bakalan terima cek dengan nominal digit banyak-lah…. hehehe (no hurt feelin’ bro). sebenernya sy cuma mengajak agar mengimbangkan apa yg kita usahakan di kehidupan dunia ini dg kehidupan besok. biar ada sedikit imbangannya-lah.
oke, mari kita sareng2 budayakan ngeblog bertemakan keimanan, renungan, moral, dll. tentunyah bwt bekal kelak di alam sana. toh paypal gak berlaku ntar
Insya Allah, semoga bermanfaat.
Ditulis dalam Diari | yang berkaitan adsense, duit, keyword, ngeblog, paypal, tafakur | 6 Komentar »
Mei 26, 2008 oleh risalah salik

“celebrating 100 years of national awakening”
“bangsa” seperti apa sih yang diperingati “kebangkitan”-nya? lantas “kebangkitan” seperti apa yg sebenarnya yang bisa di pahamkan kita? bukannya bertujuan untuk sekedar menambahi dg partai membolak-balik kata. ada hikmah tersembunyi di sebalik lontaran kata ini…
“bangsa”, gak usahlah kita jelaskan arti secara gramatikal-leksikal silakan cari sendiri di kamus de! sy akan coba mengupas dari sisi ini dan itu bahwa secara alam diri, pengertian “bangsa” secara arti meluas justru akan kembali ke “diri”… koq bisa ya?
“wahadzal balaadil amin” dan demi kota/negeri yg aman (QS. At Tiin 3)
balaad-negeri-kota-bangsa... emang-nya seperti apa seeh, “aman” yang dimaksud? apakah sekedar sebuah kota ato negeri yg ada di muka bumi ini? kek-nya gak tuh… bahkan kota2 besar di negara arab, yg notabene asal islam, malahan jadi sasaran kekejian konspirasi zionis-amrikis.
“man arafa nafsahu laqad arafa rabbahu“, kaum sufi sering mengutip hadits ini didalam berbagai wacana. kenapa ya? dengan mengenal diri sebenar2 kenal, akan bisa mengenal Tuhan? emangnya dimanakah Tuhan berada… trus apakah Tuhan harus kita cari? kalopun iya, dengan apa kita mencarinya? seperti apa seeh “pencarian” itu? apa aja yg ada di dalam “pencarian” itu? dst-dsb-etc
ntar sy bahas dg tulisan tersendiri ajah!
sebenarnya lah dalam diri kita ini terdapat alam semesta besar! ada pusat peredaran semesta diri, ada langit, bumi, dsb. kenapa semesta besar? justru itu yang yg menyebabkan kaca mata pandang diri menjadi terhalang. dengan melihat dari sudut pandang diri, maka segala sesuatunya hanyalah akan kembali ke DIA! Tuhan semesta alam. ya… dengan pengenalan diri yg sesungguhnyalah, kita bisa melihat dan memandang segala sesuatu secara proporsional.
semesta diri itulah alam jiwa bathin kita… luar biasa luas tak berbataskan dimensi ruang dan waktu. beredarnya mengelilingi ka’bah hati, bagaikan lautan manusia yg tak henti2nya berthawaf mengelilingi Rumah NYA. bertasbih-bertahlil-bertahmid mensyukuri nikmat karunia NYA. tak henti2 mengarahkan kiblat hati dan fikiran hanya kepada NYA.
itulah “bangsa”. lantas kebangkitan yang dilambangkan di alam dunia (indonesia) dengan peringatan “celebrating 100 years of national awakening”…? yup, yakni jiwa bathin yg bangkit alias bangun dari keterlelapan tidur panjang, yang menimbulkan ke-jumud-an pola pemikiran, yg cenderung terjebak kepada tipuan dunia yg semakin tua ini. bukankah Nabi Muhammad SAW, bersabda bahwa “sesungguhnya manusia itu tidur, pada saat mati ia akan bangun”.
kenapa justru setelah bangun, manusia malahan dibilang sudah mati? tanya kenapa…
…….to be continued!
Ditulis dalam Tafsir Sufi | yang berkaitan celebrating 100 years of national awakening, dimensi ruang dan waktu, kebangkitan bangsa, kiblat hati, pola pemikiran, semesta, tahlil, Tasbih | Leave a Comment »
Mei 26, 2008 oleh risalah salik

semata riap2 permukaan ladang pemahaman insan. betapa banyak untaian huruf yang terangkai, tak jua melahirkan kesejukan… jutaan kali bahkan tersimak hanya di lisan2 menyisakan hanya remah2 ceceran penafsiran semu!
mereka hanya mahir melahirkan angan. tak kunjung hendak beranjak… seakan terseoknya langkah diri karena bukan kehendak sang jiwa. betapa naifnya “kesadaran jiwa yg tak tercerahkan”. seperti burung gagak yang tak hendak bepergian jauh. sekedar memunguti serpihan2 kecil remahan roti basi di pinggir ladang. ataukah menjadi seperti kesadaran burung merak-kah? suka memamerkan bulu2 indahnya, demi sekedar tepuk pujian tak berbekas-kan…
adakah kemampuan untuk menjelajahi cakrawala pemahaman jiwa, seperti kesadaran yang dipunya burung pipit? hanya memiliki keberanian didalam rombongannya, tanpa nyali untuk mencoba kesendirian bertualang menembus angkasa luas tanpa batas… alangkah nyaman-nya bersama kawan2 seirama, sebahasa, dan se-se lain ke-takberagam-an…
bisakah kita meniru sang rajawali, yang bersarang hanya di tebing2 tinggi tak terjangkau insan. dan sekedar singgah di sarang untuk melepas penat barang sejenak. lantas menembus cerahnya bentangan luas langit kesadaran jiwa… mata sang rajawali menatap nan tajam kehidupan makhluk di bumi! bertemankan kesunyian, meneriakkan lantang “…haqq!! …haqq!!”. dari tingginya pandangan diatas angkasa pemahaman kesadaran jiwa!
cobalah untuk tidak menjadi seperti kesadaran burung merpati, yang mampu untuk terbang jauh nan tinggi. tapi cenderung terjebak akan sebuah kemapanan diri. bila bertemu majikan yang menawarkan segenggam bijian dan sekotak sabun ruang bersarang di pojok halaman dunia. sang burung yang terlena kemapanan akan malas untuk mencoba bertualang menembus sebenar kebebasan jiwa.
wahai… jiwa! beranjaklah dari belenggu dunia ini, campakkan ikatan akal nan menyimpul tak berguna! bentangkan sayap2 mu. bertualang-lah ke angkasa tak berbatas itu! ikutilah kepakan sang rajawali di dirimu! dengarkanlah kesunyian di telinga bathin, kan menemanimu terbang melintasi luasnya cakrawala lelangit tujuh. teriakkanlah! teriakkanlah! agar semua burung dan makhluk di bumi mendengarnya… agar mereka segera bergegas mengikutimu!
Ditulis dalam Diari | yang berkaitan kesadaran jiwa | 2 Komentar »
Tulisan Sebelumnya »